Assalamualaikum teman-teman semoga bermanfaat bagi kita semuaa..
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Daun
sirih telah lama dan banyak digunakan di Indonesia untuk aktivitas
antibakterinya. Ekstrak etanol 80% daun sirih memiliki kompatibilitas tinggi
untuk dijadikan produk farmasi, termasuk sediaan semprot (spray). Masyarakat
Indonesia sebagai obat tradisional. Ekstrak etilasetat daun sirih hijau
mengandung senyawa antibakteri yang terdiri dari senyawa fenol dan turunannya.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antibakteri ekstrak
etilasetat daun sirih hijau terhadap bakteri S. Epidermidis.
Bau
kaki adalah masalah yang sangat mengganggu penampilan. Hal ini menyebabkan
banyak orang menjadi kurang percaya diri saat menggunakan sepatu, terutama
sepatu tertutup. Pada tahun 2014 American Podiatric Medical Association (APMA)
melakukan survei terhadap 1021 manusia dewasa (berusia 18 tahun atau lebih)
terkait masalah di kaki dan menemukan berbagai hasil menarik. Sejak tahun 2010,
bagian kaki masih menjadi bagian yang kurang diperhatikan oleh masyarakat
Amerika. Namun, bertentangan dengan hal tersebut, delapan dari 10 orang Amerika
mengaku mengalami permasalahan dengan kaki. (American Podiatric Medical
Association, 2014).
B.
Tujuan
Dari latar belakang diatas, maka tujuan
penulisan essai ini antara lain:
1.
Untuk mengetahui tentang daun sirih yang
berguna sebagai antibakteri.
C.
Manfaat
Penulisan ini diharapkan dapat melatih penulis melatih untuk mengembangkan
dan memperluas ilmu pengetahuan penulis dan pembaca.
Pendahuluan
Daun
sirih telah lama dan banyak digunakan di Indonesia untuk aktivitas
antibakterinya. Ekstrak etanol 80% daun sirih memiliki kompatibilitas tinggi
untuk dijadikan produk farmasi, termasuk sediaan semprot (spray). Masyarakat
Indonesia sebagai obat tradisional. Ekstrak etilasetat daun sirih hijau
mengandung senyawa antibakteri yang terdiri dari senyawa fenol dan turunannya.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antibakteri ekstrak
etilasetat daun sirih hijau terhadap bakteri S. Epidermidis.
Bau kaki adalah masalah yang sangat mengganggu
penampilan. Hal ini menyebabkan banyak orang menjadi kurang percaya diri saat
menggunakan sepatu, terutama sepatu tertutup. Pada tahun 2014 American
Podiatric Medical Association (APMA) melakukan survei terhadap 1021 manusia
dewasa (berusia 18 tahun atau lebih) terkait masalah di kaki dan menemukan
berbagai hasil menarik. Sejak tahun 2010, bagian kaki masih menjadi bagian yang
kurang diperhatikan oleh masyarakat Amerika. Namun, bertentangan dengan hal
tersebut, delapan dari 10 orang Amerika mengaku mengalami permasalahan dengan
kaki. (American Podiatric Medical Association, 2014).
Produk antibau kaki yang sudah beredar saat
ini di antaranya terdapat sabun anti bakteri, serbuk untuk merendam kaki, anti
prespirant, krim, serbuk antibau kaki. Namun, sediaansediaan yang telah
disebutkan tersebut belum dijual bebas di Indonesia, bahkan walaupun produk
tersebut ada di Indonesia, harganya mahal dan sulit untuk dijangkau.
Berdasarkan pemahaman tersebut, dilakukanlah penelitian dengan tujuan untuk
menciptakan produk antibakteri yang dapat mengendalikan bau kaki dalam bentuk
spray. Bentuk spray dipilih atas dasar sifat spray yang dapat memberikan suatu
kandungan yang konsentrat, namun di saat yang bersamaan memiliki profil yang
cepat kering sehingga memberikan pengalaman yang menyenangkan dan mudah dipakai
untuk pengguna (pasien). Kemudian, untuk meningkatkan berbagai keuntungan, dan
tepat sasaran dalam mengatasi keadaan yang terjadi, diperlukan suatu produk
dengan zat aktif yang mudah ditemui dan murah, yakni daun sirih. Kemampuan
antibakteri produk didapatkan dari ekstrak etanol 80% daun sirih yang telah
terbukti memiliki aktivitas antibakteri yang amat baik sebagai bakteriostatik
karena terdapat tanin, flavonoid, kavikol, dan kavibetol (Scalbert, 1991).
Metode ekstrak etanol 80% daun sirih (Piper
betle L.) (Balitro, Indonesia), asam askorbat (Brataco, Indonesia), gliserin
(Brataco, Indonesia), isopropil alkohol (Brataco, Indonesia), mentol (Brataco,
Indonesia), propilen glikol (Brataco, Indonesia), pewangi lemon (Brataco,
Indonesia), Tween 80 (Brataco, Indonesia), aqua demineralisata (Brataco,
Indonesia), Bacillus subtilis (FKUI, Indonesia), NaCl 0.9% (Sigma Aldrich,
USA), media TSA (Sigma Aldrich, USA). Menurut Sheikh, 2012 menyatakan bahwa
penggunaan ekstrak tumbuhan yang meiliki aktivitas antimikroba sangat membantu
dalam penyembuhan. Salah satu tanaman yang memiliki kemampuan sebagai
antibakteri adalah Sirih hijau ( Piper
betle L.). Daun sirih hijau digunakan sebagai obat batuk, obat cacimg, dan
antiseptik luka. Daun sirih hijau mengandung berbagai macam kandungan kimia,
antara lain minyak atsiri, terpenoid, tanin, polifenol serta steroid.
Senyawa-senyawa yang terkandung dalam tumbuhan sirih hijau tidak seluruhnya
merupakan senyawa polar, namun juga terdapat senyawa non polar ataupun
semipolar dan bersifat lipofil, sebagaimana yang terkandung pada tanaman
tingkat tinggi pada umumnya. Pelarut etanol, etilasetat dan n-heksan merupakan
pelarut organik yang banyak digunakan dalam proses ekstraksi, tang dapat
melarutkan senyawa flavonoid, saponin, aglikon flavonoid, steroid dan lainnya
I.
ISI
Daun Sirih
Sirih (Piper betle L.) merupakan tumbuhan
merambat dengan bentuk daun menyerupai jantung dan berwarna
hijau. Minyak atsiri yang terkandung dalam
sirih menyebabkan tumbuhanini mempunyai aroma yang khas. Sirih yang telah
dikenal masyarakat sebagai tanaman obatmempunyai banyak manfaat untuk
kesehatan. Secara tradisional, sirih sering digunakan sebagaiobat untuk
pengobatan berbagai penyakit yang menyerang manusia. Salah satu suku yang ada
diIndonesia yang dikenal dalam pemanfaatan obat khususnya sirih (P. betle)
adalah masyarakat suku Madura. Berdasarkan penelitian, masyarakat di Kecamatan
Kalianget Kabupaten SumenepMadura memanfaatkan sirih untuk pengobatan penyakit
dalam yaitu asam urat, ambeien, batukrejan, disentri, jantung, keputihan, masuk
angin, memperlancar darah, mimisan, nyeri otot dan persendian, panas,
panas dalam, serta stroke. Globalisasi yang bergulir di masyarakat menyebabkan
pertemuan antar budaya, salah satuadaptasi budaya luar yang masuk ke Indonesia
adalah makanan dan gaya hidup. Makanan dangaya hidup masyarakat sekarang dapat
dikatakan kurang layak. Makanan seperti junk food, fastfood, dan makanan instan
mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Masalah efisiensi waktu juga menjadi
alasan bagi sebagian orang lebih memilih makanan cepat saji, selain itu bumbu
masakanIndonesia yang terkenal kaya akan rempahrempah dan rumit pengolahannya
juga dibuat menjadiinstan sehingga mudah digunakan dalam waktu yang lebih
cepat. Zat-zat berbahaya yangterkandung di dalam makanan, jika dikonsumsi terus
menerus akan berdampak negatif terhadapkesehatan. Makanan-makanan ini (junk
food) jika dikonsumsi secara berlebihan dapatmenimbulkan berbagai gangguan
kesehatan, seperti obesitas (kegemukan), diabetes (kencingmanis), hipertensi
(tekanan darah tinggi), pengerasan pembuluh darah (ateroklerosis),
penyakit jantung koroner, stroke, kanker, dan lain sebagainya.
Penyembuhan dengan menggunakan obat-obatan kimia merupakan cara
pengobatan yang banyak ditempuh masyarakat, akan tetapikandungan kimia yang ada
di obatobatan tersebut akan membawa efek lain bagi organ tubuh.Harga obat
sintetis yang semakin meningkat seiring dengan efek sampingnya bagi
kesehatanmengakibatkan adanya peningkatan penggunaan obat tradisional oleh
masyarakat denganmemanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar.
Daun
sirih telah lama dan banyak digunakan di Indonesia untuk aktivitas
antibakterinya. Ekstrak etanol 80% daun sirih memiliki kompatibilitas tinggi
untuk dijadikan produk farmasi, termasuk sediaan semprot (spray). Masyarakat
Indonesia sebagai obat tradisional. Ekstrak etilasetat daun sirih hijau
mengandung senyawa antibakteri yang terdiri dari senyawa fenol dan turunannya.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antibakteri ekstrak
etilasetat daun sirih hijau terhadap bakteri S. Epidermidis. Sirih hijau diekstraksi menggunakan pelarut etil
asetat dan diuji aktivitas penghambatnya terhadap bakteri S.epidermis dengan metode difusi agar.
Hasil penelitian menunjukkan daya hambat ekstrak pada konsentrasi 3% dan 5%,
yaitu 9,8 dan 15 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat
memiliki aktivitas antibakteri terhadap S.epidermis
dalam kategori sedang-kuat. Tanaman sirih (Piper
betle L) merupakan jenis tanaman yang tumbuh merambat dengan
ketinggian mencapai 5-15 m. Tanaman ini sebagai tanaman obat yang berkhasiat
untuk penyembuhan terhadap penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus
aureus karena memiliki daya antiseptik yang baik. Bagian tanaman yang
digunakan yaitu daunnya karena banyak mengandung senyawa turunan fenol.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antibakteri ekstrak daun sirih (Piper
betle L) dan untuk mengetahui konsentrasi ekstrak daun sirih yang
memiliki efek antibakteri paling efektif terhadap bakteri Staphylococcus
aureus penyebab penyakit kulit. Menurut Sheikh, 2012
menyatakan bahwa penggunaan ekstrak tumbuhan yang meiliki aktivitas antimikroba
sangat membantu dalam penyembuhan. Salah satu tanaman yang memiliki kemampuan
sebagai antibakteri adalah Sirih hijau (
Piper betle L.). Daun sirih hijau digunakan sebagai obat batuk, obat
cacimg, dan antiseptik luka.
Daun sirih hijau mengandung berbagai macam
kandungan kimia, antara lain minyak atsiri, terpenoid, tanin, polifenol serta
steroid. Senyawa-senyawa yang terkandung dalam tumbuhan sirih hijau tidak
seluruhnya merupakan senyawa polar, namun juga terdapat senyawa non polar
ataupun semipolar dan bersifat lipofil, sebagaimana yang terkandung pada
tanaman tingkat tinggi pada umumnya. Pelarut etanol, etilasetat dan n-heksan
merupakan pelarut organik yang banyak digunakan dalam proses ekstraksi, tang
dapat melarutkan senyawa flavonoid, saponin, aglikon flavonoid, steroid dan
lainnya. Dalam penelitian Zalizar (2009) ekstrak daun sirih maupun salep daun
sirih terbukti dapat menurunkan jumlah bakteri Staphylococcus aureus dan
bakteri Escherichia coli yang merupakan bakteri yang umum ditemukan pada susu
mastitis. Penelitian tersebut menggunakan biakan bakteri Staphylococcus aureus
dan bakteri Escherichia coli dalam media spesifik. Seperti yang diketahui,
mastitis tidak hanya disebabkan oleh bakteri patogen Staphylococcus aureus dan
bakteri Escherichia coli saja dan sampai dengan saat ini pengujian efektivitas
antibakterial dari bahan herbal terhadap susu penderita mastitis belum pernah
dilakukan.
DAFTAR
PUSTAKA
Saleh, E., 2004. Teknologi Pengolahan Susu Dan Hasil Ikutan Ternak,
Fakultas Peternakan, Universitas Sumatera
Utara.
Sheikh,
dkk. 2012. Studies On Some Plant Extract for Their Antimicrobial Potential
Against Certain Pathogenic Microorganisme. American Journal of Plant Sciences.
3. 209-213.
SNI. 2008. Metode Uji Tapis (Screening Test) Residu Antibiotika pada
Daging, Telur, dan Susu Secara Bioassay, BSN, Jakarta.
Zalizar, L., 2009. Formulasi Salep Herbal (Piper betle L. dan
Phyllanthus Niruri) Untuk Pencegahan Mastitis Pada Sapi Perah, Laporan
penelitian, Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar