Minggu, 28 Juni 2020

Daun Sirih bisa menghilankan bau?


Assalamualaikum teman-teman semoga bermanfaat bagi kita semuaa..



PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Daun sirih telah lama dan banyak digunakan di Indonesia untuk aktivitas antibakterinya. Ekstrak etanol 80% daun sirih memiliki kompatibilitas tinggi untuk dijadikan produk farmasi, termasuk sediaan semprot (spray). Masyarakat Indonesia sebagai obat tradisional. Ekstrak etilasetat daun sirih hijau mengandung senyawa antibakteri yang terdiri dari senyawa fenol dan turunannya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antibakteri ekstrak etilasetat daun sirih hijau terhadap bakteri S. Epidermidis.
Bau kaki adalah masalah yang sangat mengganggu penampilan. Hal ini menyebabkan banyak orang menjadi kurang percaya diri saat menggunakan sepatu, terutama sepatu tertutup. Pada tahun 2014 American Podiatric Medical Association (APMA) melakukan survei terhadap 1021 manusia dewasa (berusia 18 tahun atau lebih) terkait masalah di kaki dan menemukan berbagai hasil menarik. Sejak tahun 2010, bagian kaki masih menjadi bagian yang kurang diperhatikan oleh masyarakat Amerika. Namun, bertentangan dengan hal tersebut, delapan dari 10 orang Amerika mengaku mengalami permasalahan dengan kaki. (American Podiatric Medical Association, 2014).

B.     Tujuan
Dari latar belakang diatas, maka tujuan penulisan essai ini antara lain:
1.      Untuk mengetahui tentang daun sirih yang berguna sebagai antibakteri.

C.    Manfaat
Penulisan ini diharapkan dapat melatih penulis melatih untuk mengembangkan dan memperluas ilmu pengetahuan penulis dan pembaca.



Pendahuluan
Daun sirih telah lama dan banyak digunakan di Indonesia untuk aktivitas antibakterinya. Ekstrak etanol 80% daun sirih memiliki kompatibilitas tinggi untuk dijadikan produk farmasi, termasuk sediaan semprot (spray). Masyarakat Indonesia sebagai obat tradisional. Ekstrak etilasetat daun sirih hijau mengandung senyawa antibakteri yang terdiri dari senyawa fenol dan turunannya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antibakteri ekstrak etilasetat daun sirih hijau terhadap bakteri S. Epidermidis.
 Bau kaki adalah masalah yang sangat mengganggu penampilan. Hal ini menyebabkan banyak orang menjadi kurang percaya diri saat menggunakan sepatu, terutama sepatu tertutup. Pada tahun 2014 American Podiatric Medical Association (APMA) melakukan survei terhadap 1021 manusia dewasa (berusia 18 tahun atau lebih) terkait masalah di kaki dan menemukan berbagai hasil menarik. Sejak tahun 2010, bagian kaki masih menjadi bagian yang kurang diperhatikan oleh masyarakat Amerika. Namun, bertentangan dengan hal tersebut, delapan dari 10 orang Amerika mengaku mengalami permasalahan dengan kaki. (American Podiatric Medical Association, 2014).
 Produk antibau kaki yang sudah beredar saat ini di antaranya terdapat sabun anti bakteri, serbuk untuk merendam kaki, anti prespirant, krim, serbuk antibau kaki. Namun, sediaansediaan yang telah disebutkan tersebut belum dijual bebas di Indonesia, bahkan walaupun produk tersebut ada di Indonesia, harganya mahal dan sulit untuk dijangkau. Berdasarkan pemahaman tersebut, dilakukanlah penelitian dengan tujuan untuk menciptakan produk antibakteri yang dapat mengendalikan bau kaki dalam bentuk spray. Bentuk spray dipilih atas dasar sifat spray yang dapat memberikan suatu kandungan yang konsentrat, namun di saat yang bersamaan memiliki profil yang cepat kering sehingga memberikan pengalaman yang menyenangkan dan mudah dipakai untuk pengguna (pasien). Kemudian, untuk meningkatkan berbagai keuntungan, dan tepat sasaran dalam mengatasi keadaan yang terjadi, diperlukan suatu produk dengan zat aktif yang mudah ditemui dan murah, yakni daun sirih. Kemampuan antibakteri produk didapatkan dari ekstrak etanol 80% daun sirih yang telah terbukti memiliki aktivitas antibakteri yang amat baik sebagai bakteriostatik karena terdapat tanin, flavonoid, kavikol, dan kavibetol (Scalbert, 1991).
 Metode ekstrak etanol 80% daun sirih (Piper betle L.) (Balitro, Indonesia), asam askorbat (Brataco, Indonesia), gliserin (Brataco, Indonesia), isopropil alkohol (Brataco, Indonesia), mentol (Brataco, Indonesia), propilen glikol (Brataco, Indonesia), pewangi lemon (Brataco, Indonesia), Tween 80 (Brataco, Indonesia), aqua demineralisata (Brataco, Indonesia), Bacillus subtilis (FKUI, Indonesia), NaCl 0.9% (Sigma Aldrich, USA), media TSA (Sigma Aldrich, USA). Menurut Sheikh, 2012 menyatakan bahwa penggunaan ekstrak tumbuhan yang meiliki aktivitas antimikroba sangat membantu dalam penyembuhan. Salah satu tanaman yang memiliki kemampuan sebagai antibakteri adalah Sirih hijau ( Piper betle L.). Daun sirih hijau digunakan sebagai obat batuk, obat cacimg, dan antiseptik luka. Daun sirih hijau mengandung berbagai macam kandungan kimia, antara lain minyak atsiri, terpenoid, tanin, polifenol serta steroid. Senyawa-senyawa yang terkandung dalam tumbuhan sirih hijau tidak seluruhnya merupakan senyawa polar, namun juga terdapat senyawa non polar ataupun semipolar dan bersifat lipofil, sebagaimana yang terkandung pada tanaman tingkat tinggi pada umumnya. Pelarut etanol, etilasetat dan n-heksan merupakan pelarut organik yang banyak digunakan dalam proses ekstraksi, tang dapat melarutkan senyawa flavonoid, saponin, aglikon flavonoid, steroid dan lainnya
       I.            ISI
 Daun Sirih
Sirih (Piper betle L.) merupakan tumbuhan merambat dengan bentuk daun menyerupai jantung dan berwarna hijau. Minyak atsiri yang terkandung dalam sirih menyebabkan tumbuhanini mempunyai aroma yang khas. Sirih yang telah dikenal masyarakat sebagai tanaman obatmempunyai banyak manfaat untuk kesehatan. Secara tradisional, sirih sering digunakan sebagaiobat untuk pengobatan berbagai penyakit yang menyerang manusia. Salah satu suku yang ada diIndonesia yang dikenal dalam pemanfaatan obat khususnya sirih (P. betle) adalah masyarakat suku Madura. Berdasarkan penelitian, masyarakat di Kecamatan Kalianget Kabupaten SumenepMadura memanfaatkan sirih untuk pengobatan penyakit dalam yaitu asam urat, ambeien, batukrejan, disentri, jantung, keputihan, masuk angin, memperlancar darah, mimisan, nyeri otot dan persendian, panas, panas dalam, serta stroke. Globalisasi yang bergulir di masyarakat menyebabkan pertemuan antar budaya, salah satuadaptasi budaya luar yang masuk ke Indonesia adalah makanan dan gaya hidup. Makanan dangaya hidup masyarakat sekarang dapat dikatakan kurang layak. Makanan seperti junk food, fastfood, dan makanan instan mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Masalah efisiensi waktu juga menjadi alasan bagi sebagian orang lebih memilih makanan cepat saji, selain itu bumbu masakanIndonesia yang terkenal kaya akan rempahrempah dan rumit pengolahannya juga dibuat menjadiinstan sehingga mudah digunakan dalam waktu yang lebih cepat. Zat-zat berbahaya yangterkandung di dalam makanan, jika dikonsumsi terus menerus akan berdampak negatif terhadapkesehatan. Makanan-makanan ini (junk food) jika dikonsumsi secara berlebihan dapatmenimbulkan berbagai gangguan kesehatan, seperti obesitas (kegemukan), diabetes (kencingmanis), hipertensi (tekanan darah tinggi), pengerasan pembuluh darah (ateroklerosis), penyakit jantung koroner, stroke, kanker, dan lain sebagainya. Penyembuhan dengan menggunakan obat-obatan kimia merupakan cara pengobatan yang banyak ditempuh masyarakat, akan tetapikandungan kimia yang ada di obatobatan tersebut akan membawa efek lain bagi organ tubuh.Harga obat sintetis yang semakin meningkat seiring dengan efek sampingnya bagi kesehatanmengakibatkan adanya peningkatan penggunaan obat tradisional oleh masyarakat denganmemanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar.
Daun sirih telah lama dan banyak digunakan di Indonesia untuk aktivitas antibakterinya. Ekstrak etanol 80% daun sirih memiliki kompatibilitas tinggi untuk dijadikan produk farmasi, termasuk sediaan semprot (spray). Masyarakat Indonesia sebagai obat tradisional. Ekstrak etilasetat daun sirih hijau mengandung senyawa antibakteri yang terdiri dari senyawa fenol dan turunannya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antibakteri ekstrak etilasetat daun sirih hijau terhadap bakteri S. Epidermidis. Sirih hijau diekstraksi menggunakan pelarut etil asetat dan diuji aktivitas penghambatnya terhadap bakteri S.epidermis dengan metode difusi agar. Hasil penelitian menunjukkan daya hambat ekstrak pada konsentrasi 3% dan 5%, yaitu 9,8 dan 15 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat memiliki aktivitas antibakteri terhadap S.epidermis dalam kategori sedang-kuat. Tanaman sirih (Piper betle L) merupakan jenis tanaman yang tumbuh merambat dengan ketinggian mencapai 5-15 m. Tanaman ini sebagai tanaman obat yang berkhasiat untuk penyembuhan terhadap penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus karena memiliki daya antiseptik yang baik. Bagian tanaman yang digunakan yaitu daunnya karena banyak mengandung senyawa turunan fenol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antibakteri ekstrak daun sirih (Piper betle L) dan untuk mengetahui konsentrasi ekstrak daun sirih yang memiliki efek antibakteri paling efektif terhadap bakteri Staphylococcus aureus penyebab penyakit kulit. Menurut Sheikh, 2012 menyatakan bahwa penggunaan ekstrak tumbuhan yang meiliki aktivitas antimikroba sangat membantu dalam penyembuhan. Salah satu tanaman yang memiliki kemampuan sebagai antibakteri adalah Sirih hijau ( Piper betle L.). Daun sirih hijau digunakan sebagai obat batuk, obat cacimg, dan antiseptik luka.



 Daun sirih hijau mengandung berbagai macam kandungan kimia, antara lain minyak atsiri, terpenoid, tanin, polifenol serta steroid. Senyawa-senyawa yang terkandung dalam tumbuhan sirih hijau tidak seluruhnya merupakan senyawa polar, namun juga terdapat senyawa non polar ataupun semipolar dan bersifat lipofil, sebagaimana yang terkandung pada tanaman tingkat tinggi pada umumnya. Pelarut etanol, etilasetat dan n-heksan merupakan pelarut organik yang banyak digunakan dalam proses ekstraksi, tang dapat melarutkan senyawa flavonoid, saponin, aglikon flavonoid, steroid dan lainnya. Dalam penelitian Zalizar (2009) ekstrak daun sirih maupun salep daun sirih terbukti dapat menurunkan jumlah bakteri Staphylococcus aureus dan bakteri Escherichia coli yang merupakan bakteri yang umum ditemukan pada susu mastitis. Penelitian tersebut menggunakan biakan bakteri Staphylococcus aureus dan bakteri Escherichia coli dalam media spesifik. Seperti yang diketahui, mastitis tidak hanya disebabkan oleh bakteri patogen Staphylococcus aureus dan bakteri Escherichia coli saja dan sampai dengan saat ini pengujian efektivitas antibakterial dari bahan herbal terhadap susu penderita mastitis belum pernah dilakukan.












DAFTAR PUSTAKA
Saleh, E., 2004. Teknologi Pengolahan Susu Dan Hasil Ikutan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas  Sumatera Utara.
Sheikh, dkk. 2012. Studies On Some Plant Extract for Their Antimicrobial Potential Against Certain Pathogenic Microorganisme. American Journal of Plant Sciences. 3. 209-213.
SNI. 2008. Metode Uji Tapis (Screening Test) Residu Antibiotika pada Daging, Telur, dan Susu Secara Bioassay, BSN, Jakarta.
Zalizar, L., 2009. Formulasi Salep Herbal (Piper betle L. dan Phyllanthus Niruri) Untuk Pencegahan Mastitis Pada Sapi Perah, Laporan penelitian, Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar